FENOMENA PENDIRIAN SEKOLAH FORMAL DI KALANGAN AHLUSSUNNAH [Bag. 2]

Seputar Fenomena Pendirian Sekolah Formal di Kalangan Ahlussunnah
image

(Sebuah Tinjuan Ringkas)

Dampak buruk mengikuti Sekolah Formal bagi pihak pengelolah dan staff guru:

– Sedikitnya sikap baro’ah – atau bisa jadi hilang sama sekali – terhadap ahlul ma’ashi. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain sikap basa-basi dan prinsip “Apa boleh buat yang penting bisa lancar”. Sementara

mereka tidak bisa menutup mata terhadap segudang kemungkaran yang ada.

– Mengabaikan amalan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Yang demikian ini terjadi sebab mereka telah terkait dan terikat dengan dinas pendidikan serta telah berhubungan dengan sekolah-sekolah yang sederajat lainnya. Bagaimana mereka mampu melarang wanita bertabarruj sementara rekan-rekan mereka melakukannya? Bagaimana mereka melarang rokok sementara atasan mereka sendiri merokok? Bagaimana mereka melarang nyanyian sementara pihak dinas pendidikan mewajibkan lagu Indonesia Raya?

– Pihak pengelolah sekolah dan segenap stap tenaga pengajar akan banyak berinteraksi dengan pihak dinas pendidikan. Suka ataupun tidak suka mereka akan bermuamalah sebagaimana yang telah menjadi peraturan badan pendidikan nasional seperti harus ikhtilat dan sebagainya.

– Banyak kedustaan-kedustaan yang mewarnai proses keberlangsungan pendidikan. Contoh kecil, ketika ada undangan rapat dari pihak dinas pendidikan atau yang semisalnya untuk membahas suatu pemasalahan yang berkenaan dengan pendidikan sementara mereka mengetahui bahwa di sana terdapat banyak kemaksiatan, maka apa yang bisa diperbuat oleh pihak sekolah islam terpadu? jika dia memenuhi undangan tersebut maka jelas kemungkarannya tidak bisa dielakkan. Jika menolak, status formalitas sekolahnya bisa dicabut. Maka cara yang paling mudah dan aman adalah dengan mengajukan alasan yang dibuat-buat.

Menjawab syubhat:

1. Mereka mengatakan:
“Sesungguhnya yang pertama kali mengenal sistim pendidikan itu adalah kaum muslimin dan pada hakekatnya justru orang-orang kafirlah yang meniru sistim pendidikan dari kaum muslimin.”

Jawaban:
Kalau saja benar apa yang kalian sebutkan bahwa kaum muslimin lebih dahulu mengenal sistim pendidikan daripada orang-orang kafir. Namun pendidikan seperti apa yang dahulu mereka terapkan? Apakah mereka mengajarkan upacara bendera?
Apakah mereka berikhtilath dengan mudarrisah-mudarrisahnya? Apakah mereka bersikap ‘cengar-cengir’ terhadap ahlul bid’ah dan ahlul ma’ashi?
Maka tidak ada kaitannya antara siapa yang pertama kali menerapkan sistim pendidikan dengan keinginan kalian untuk mendirikan sekolah formal sebab sistim pendidikan itu masih bersifat sangat umum, tak cuma berhubungan dengan urusan sekolah semata karena pendidkan anak-anak di ma’had ,TK atau TA pun termasuk sistim pendidikan.

2. Mereka mengatakan:
“Kita mendirikan sekolah dengan sistim pendidikan formal ini dalam rangka untuk    menjembatani anak-anak kaum muslimin awam kepada pemahan ahlussunnah.”

Jawaban:
Yang terbukti malah sebaliknya. Justru pendidikan model seperti itu telah menjembatani anak-anak ahlussunnah untuk mengenal ‘dunia bebas’. Bahkan lebih para dari itu, aqidah-aqidah sesat kaum kafir telah menjangkiti pemikiran anak-anak kaum mislimin. Hal ini telah kita sebutkan di dalam penjelasan sebelumnya.

3. Mereka mengatakan:
“Selain itu, kita juga bertujuan supaya anak-anak ahlussunnah bisa mendapatkan ijazah untuk melanjutkan studi ke Universitas Islamiyah madinah, Al Azhar mesir dan lainnya.”

Jawaban:
Alhamdulillah untuk mendapatkan ilmu tidak hanya terbatas pada perguruan tinggi semata. Ilmu bisa didapatkan di ponok-pondok pesantren yang bisa kita temui hampir di setiap provinsi di negeri kita. Ilmu juga bisa didapatkan di halaqoh-halaqoh ta’lim di masjid-masjid. Dan jika mampu melakukan safar bisa melanjutkan pelajarannya ke negeri arab Saudi, yaman ataupun ke negeri islam lainnya. Disana terdapat banyak marokiz ataupun majlis-majlis ilmu di masjid masjid.

Menurut pengakuan salah seorang ikhwah kita yang belajar di salah satu universitas Saudi, mereka lebih banyak mengikuti pelajaran yang diadakan oleh para masyayeikh di masjid-masjid daripada di kampusnya sendiri. Ini menunjukkan bahwa tempat menggali ilmu itu bukan hanya di universitas saja.

4. Mereka mengatakan:
“Di beberapa daerah di negeri kita sangat memperhatikan gelar seorang da’i. mereka tidak mau menerima dakwah apabila sang da’I tidak memiliki title Lc, MA atau Dr.

Jawaban:
Yang penting untuk kita ingat selalu adalah bahwasanya hidayah itu urusan Allah semata. Dia berhak memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Dan  Dialah pula yang menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(Al Qoshosh :56)

Memang terkadang titel seorang da’i menjadi salah satu wasilah untuk menarik simpatik para mad’u. Namun harus kita ingat bahwa titel bukanlah sebab kedua setelah hidayah Allah yang bisa menggugah hati umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di sana ada beberapa hal lain yang menjadi sebab besar, di antaranya adalah keikhlasan sang da’i, kesadaran dari diri mad’u itu sendiri, isi materi, cara penyampaian dari sang da’i tersebut serta pengamalan sang da’i terhadap ilmunya di tengah masyarakat. Betapa banyak da’i bertitel namun dakwahnya tidak diterima oleh umat lantaran amalan kesehariannya tidak berkesesuaian dengan apa yang dia dakwahkan.

Dan perhatikanlah olehmu siapa di antara tokoh-tokoh yang menyebarkan dakwah salafiyah di negeri ini. Mereka adalah para asatidzah yang mayoritas mereka tidak memliki title apapun. Jangankan doktor, MA pun tidak. Tapi hasilnya sebagaimana yang kita saksikan bersama. Tidaklah satu kota di bumi pertiwi ini melainkan di sana terdapat ahlussunnah insya Allah. Bahkan tak jarang di perkampungan terpencil, di gubuk-gubuk sawah atau di kapal-kapal nelayan terdengar  suara ta’lim salah seorang di antara asatidzah. Ini menunjukkan bahwa dakwah salafiyah telah mendapat nilai positif di tengah-tengah umat tanpa harus mengandalkan gelar dari sang da’i.

5. Mereka mengatakan:
“Sebagian ulama kibar membolehkan mendirikan sekolah formal sebagaimana yang telah ditanyakan oleh beberapa ustadz.”

Jawaban:
Sebagian mereka mengabarkan bahwa syaikh Sholeh al Fauzan telah ditanya tentang hukum mendirikan sekolah yang mereka maksud. Maka hal ini telah dijelaskan pula oleh al ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhohullah di salah satu daurohnya yang intinya bahwa fatwa yang disandarkan kepada syaik Fauzan tersebut tidak bisa dijadikan ‘modal’ pembolehan sekolah formal disebabkan karena sang penanya hanya bertanya tentang hukum mengikuti ebtanas. Sementara mengikuti ebtanas tidaklah mengharuskan anak untuk sekolah karena yang kita tahu bahwa sekarang ini pemerintah memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengikuti ebtanas dalam rangka mendapatkan ijazah, meskipun tanpa sekolah. Itupun  kalau seandainya fatwa itu benar dan sang penanya juga memberikan pertanyaan secara detail. Bahkan para asatidzah tidak meyakini akan keshohihan berita tersebut.

6. Mereka mengatakan:
“Sebagian dari peraturan resmi sekolah selama ini telah bisa ditangani.  Seperti peraturan mengikuti upacara bendera setiap hari senin diganti dengan acara tausiyah yang diadakan di tengah lapangan sambil berdiri. Untuk materi pelajaran kurikulum diganti dengan pelajaran-pelajaran ahlussunnah dengan menggunakan kitab-kitab yang disusun oleh pihak madrasah sendiri”.

Jawaban:
Maka ketahuilah bahwa semua alasan mereka di atas hanyalah tipu muslihat dengan menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan. Pada laporan ke pihak pendidikan nasioal mereka menyebutkan apa yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Mereka menyebutkan bahwa mereka mengikuti upacara bendera, mereka juga mengikuti kurikulum yang berlaku, dan banyak lagi hal-hal yang harus mereka selamatkan untuk kepentingan mereka dengan cara berdusta.

7. Mereka mengatakan:
“Di Negara-negara islam seperti Arab Saudi juga mendirikan sekolah-sekolah formal. Mengapa di Indonesia tidak boleh?”

Jawaban:
Jawabannya telah disebuatkan oleh al ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhohullah di dalam sebuah daurohnya yang berjudul “Dosa terhadap ilmu dan ulama”. Beliau menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyah “Laa yajuuz al qiyaas ma’al farqi” yakni tidak boleh melakukan qiyas (penyamaan hukum) pada hal yang terdapat perbedaan di dalamnya. Maka sebagaimana yang telah maklum bahwasanya Saudi Arabia adalah negeri tauhid. Dari pihak pemerintah juga sangat antusias di dalam memerangi bentuk-bentuk khurofat dan kesyirikan dalam berbagai sisi, baik di dalam praktek kehidupan ataupun di dalam sistim pendidikan sendiri.

Sebaliknya sistim pendidikan formal di negeri kita maka sebagaimana sebagian kita dahulu pernah merasakannya. Dan hingga sekarang materi-materi pembelajaran yang dijejalkan kepada anak-anak didik sangatlah banyak yang bertentangan dengan aqidah islamiyah yang tak selamat dari berbagai kesyirikan, kebid’ahan serta kekufuran. Tak jarang anak-anak didik diperkenalkan dengan praktek-praktek kekufuran yang terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim, sehingga mendorong mereka untuk lebih akrab lagi dengan perkara-perkara tersebut. Tak jarang setelah menyelesaikan materi bacaan dan latihan kemudian tugas berikutnya adalah praktek memperagakan adegan drama sesuai dengan apa yang telah dituliskan di modul pelajarannya. Maka mulailah anak-anak didik mempraktekkan kisah cerita tersebut, sebagian ada yang berperan sebagai tukang sihir, ada juga yang berperang sebagai pendekar sakti, ada lagi yang berperan sebagai penjahatnya, bahkan terkadang ada yang berperan sebagai iblis, wal ‘iyadzu billah.

Masih berkenaan dengan materi aqidah, tak sedikit materi pelajaran yang menggiring anak-anak didik kepada aqidah yang menjauhkan anak-anak didik kepada rambu-rambu syar’i yang sesuai dengan aqidah seorang muslim. Yang diperkenalkan justru pemahaman liberalisme yang menuntut kesama-rataan antara muslim dan kafir, yaitu sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Yang mana secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Demikianlah gambaran materi pendidikan yang diterapkan di negara kita yang tercinta sehingga tidak bisa dikiaskan antara sistim pendidikan Saudi Arabia dengan apa yang ada di negeri kita mengingat terlalu banyaknya perbedaan yang ada.

Dikirim oleh Al-Akh Abu Dawud Al-Pasimy [salah satu thulab di Darul Hadits Fuyus,Yaman Harasahullah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s