FENOMENA PENDIRIAN SEKOLAH FORMAL DI KALANGAN AHLUSSUNNAH [Bag. 1]

Seputar fenomena pendirian  sekolah formal di kalangan Ahlussunnah(bag 1)
image

(Sebuah tinjauan Ringkas)

Sekolah formal atau pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. Dalam sistim pendidikan ini dikenal juga dengan istilah kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam ketentuan pendidikan formal, kurikulum yang dipakai bersumber dari badan pihak pemerintah. Sehingga yang menjadi target pendidikan adalah bagaimana nantinya para siswa bisa menimba ilmu dari kurikulum tersebut dan bisa memahaminya, tanpa memilih dan memilah sisi pandang keselamatan aqidah.
Di kalangan ahlussunnah, hukum mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah umum telah jelas akan madhorotnya. Namun yang menjadi syubht banyak di kalanngan ahlussunnah sekarang ini adalah tentang hukum mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah yang beratribut islami. Dengan alasan supaya anak-anak salafiyah bisa mendapatkan ijazah dan untuk menjembatani anak-anak awam agar bisa mengenal dakwah ahlussunnah, ‘meluncurlah’ ide dari beberapa pihak untuk menerapkan sistim pendidikan formal yang islami. Sebutlah SDIT sebagai contoh jenjang sekolah ini yang sudah mulai diterapkan di sebagian tempat dengan basis yang berlabelkan ahlussunnah. Padahal sebagian kita telah mengetahui akan keburukan-keburukan sistim pendidikan formal. Berikut ini beberapa contoh dampak buruk tersebut:

Dampak buruk mengikuti Sekolah Formal bagi anak-anak ahlussunnah
– Akan menjembatani anak-anak ahlussunah dengan berbagai pelajaran yang banyak mengandung unsur kesyirikan, bid’ah, khurofat dan seterusnya karena konsekuensi dari menerapkan sekolah formal adalah mengikuti ketentuan kurikulum.
– Akan terjatuh kepada perbuatan latah lantaran ketika sedang menghadapi soal latihan atau ujian, para santri harus menjawab pertanyaan sebagaimana yang telah dipatrikan di dalam buku kurikulumnya. Berikut beberapa contoh soal ujiannya:

Contoh soal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA):
     1. Zaman prasejarah tertua dinamakan apa? Jawabannya harus “zaman batu”
     2. Siapakah manusia pertama? jawabannya harus “Megantropus erectus”
     3. Apakah bumi menglilingi matahari? jawabannya harus “YA”

Contoh soal PPKN:
     1. Bagaimana sikapmu jika orangtuamu pindah agama katolik?
Maka jawabannya harus “harus saling menghormati”
     2. Antar umat beragama kita harus saling…..Jawabannya harus “toleransi”
     3. Jika teman anda non muslim sedang merayakan hari rayanya, apa sikapmu sebagai teman yang baik? Jawabannya harus “memberikan ucapan selamat hari raya kepadanya”
     4. Jika di kampungmu sedang dibangun gereja, maka apa sikapmu? Jawabannya harus “Memberikan dukungan antar umat beragama”

Pada contoh-contoh latah di atas, kita khawatir atas anak-anak kita terhadap perubatan tasyabbuh sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Nabiyyuna Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:

ومن تشبه بقوم فهو منهم (عن ابن عمر رواه أحمد في المسند)

“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”

Dan di antara pelajaran-pelajaran yang ada, kurikulum yang juga banyak meracuni anak-akan kaum muslimin adalah pelajaran Bahasa Indonesia. dan Bahasa Inggris. Serinnya anak didik dilatih untuk dapat memahami suatu alur cerita. Macam-macam kisah cerita yang sering dimuat di dalam pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa inggris adalah:

– Dongeng-dongeng rakyat seperti Si Kancil yang cerdik, Bawang putih dan Bawang merah dan lain-lain.
– Kisah-kisah rakyat kuno seperti kisah Si pitung, Si pahit lidah dan si mata empat, Ratu pantai selatan dan lain-lain.
– Kisah sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia yang tidak jelas sanad dan keabsahannya seperti asal mula candi borobudur, kisah kerajaan kutai dan lain-lain.
– Kisah sejarah nasional Indonesia yang juga tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya.
– Kisah-kisah yang menggambarkan aspek kehidupan rakyat umum.

Sebagai ta’kid, setelah usai membaca anak-anak akan diuji dengan berbagai pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan bacaan tadi.

Demikian juga termasuk pelajaran yang banyak merusak kemurnian aqidah anak-anak didik adalah pelajaran agam islam sendiri sebab mayoritas kurikulum yang dijejalkan adalah pemahaman al  asy’ariyyah. Tak sedikit pula di dalamnya disertai dengan aqidah serta pemahaman sufiyyah.  Berikut contoh soal:

Contoh-contoh soal aqidah:
     1. Berapa jumlah sifat Allah? Jawabannya harus 14
     2. Berapa jumlah Nama Allah? Jawabannya harus 99
     3. Berapa jumlah malaikat? Jawabnya harus 10
     4. Berapa jumlah nabi dan rosul Allah? Jawabannya harus 25

Contoh-contoh soal fiqih:
(Meskipun perkara fiqih itu luas namun apa-apa yang kami jadikan sebagai contoh di bawah ini merupakan pendapat yang jauh dari pertimbangan para ulama fiqih)

     1. Ketika berwudhu, bagian kaki yang harus dibasuh adalah…..Jawabannya harus “dari mata kaki hingga lutut”
     2. Apa hukum melafadzkan niat sebelum sholat? Jawabannya harus “wajib. Jika tidak maka sholatnya batal”
     3. Apa hukum qunut dalam sholat subuh? Jawabannya harus “wajib”
     4. Apa hukum melafadzkan niat puasa di malam hari puasa? Jawabannya harus “wajib. Jika tidak maka tidak sah puasanya”
     5. Saat kamu sedang sahur lalu kamu mendengar suara serine tanda masuk imsak. Maka apa yang akan kamu lakukan? Jawabannya harus “berhenti dari makan dan minum”
     6. Apa hukum merayakan isro’ mi’roj dan maulid nabi? Jawabannya harus “sunnah”
     7. Apa hukum merayakan malam nuzul Qur’an? Jawabannya harus “mustahab”
     8. Apa yang kamu ucapkan ketika hari raya idul fitri? Jawabannya harus “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”

– Harus mengikuti peraturan-peraturan nasional yang berlaku pada sekolah-sekolah formal lainnya, seperti mengikuti upacara bendera setiap hari senin yang tak asing lagi akan berbagai ketentuannya seperti menyanyikan lagu kebangsaan, lagu mengheningkan cipta, hormat bendera dan lain-lain. Begitu pula dengan kewajiban mengikuti upacara hari kemerdekaan 17 Agustus, bergabung dengan sekolah-sekolah lain di suatu lapangan tertentu.
– Banyak waktu yang terbuang sia-sia dengan sibuknya mempelajari hal-hal yang tak terlalu penting bahkan berdalam-dalam dengannya. Katakan sebagai contohnya adalah bahasa inggris, sejarah nasional dan lainnya.

Dikirim Oleh Al-Akh Abu Dawud Al-Pasimy [salah satu thulab di Darul Hadits, Fuyus, Yaman Harasahullah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s