MUTIARA SALAF “SAHABAT” ABDULLAH BIN MAS’UD رضي الله عنه

image

بسم الله الرحمن الرحيم

(Al Ustadz Idral Harits Hafizhahullah)

Sebuah nasehat yg dipetik dari sebagian wasiat sahabat yg mulia, Ibnu Mas’ud radhiyAllahu ‘anhu, yang menyebutkan;

اعتبروا الناس بأخدانهم..

Jadikanlah penilaian seseorang itu berdasarkan teman dekatnya.

Mengapa?

Karena seseorang itu tidak akan mengambil teman kecuali orang yang mengagumkannya, apakah terkait dengan kecerdasannya, buah pikirannya, tindak tanduknya, perilakunya atau akhlaknya, sehingga ketika ada orang yang mengambil teman dekat, menjadi sahabat, selalu menyertainya dan menyintainya, nilailah dia dengan keadaan temannya. Sebab, arwah itu seperti sepasukan tentara, mana yang saling kenal, dia akan bergabung, akur dan mana yang tidak saling kenal tentu berselisih.

Wasiat beliau ini tidak lain berangkat dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

المرء مع دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل..

Seseorang itu bersama agama teman dekatnya, maka hendaklah seseorang memerhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.

Subhanallah, hadits ini sangat lekat dalam ingatan kita.

Dalam wasiat tadi, kita tidak diajarkan untuk langsung mengadili orang lain. Kita dibatasi dan diatur oleh di antaranya dua ayat yang mulia dalam kitab yang mulia, Al Quranul Karim.

Yang pertama surat al baqarah (ayat 44) dan surat ash shaff (ayat 2&3).

Artinya: mulailah dari diri kita.

Nilailah diri kita lebih dahulu, siapa yang jadi teman dekat kita, dengan siapa kita lebih cinta dan loyal serta mesra?
Kepada siapa kita lebih condong, lebih sering singgah? Siapakah yang kita jadikan teman duduk, berkumpul dan bermajelis?

Nilailah diri kita lebih dahulu.

Jika ada yang takut dosa besar atau maksiat, tetapi kedapatan berteman dan selalu bersama pelaku maksiat, dikhawatirkan dia juga seperti itu.

Bisa jadi, meskipun tidak mengerjakannya, dia tahu apa yang dilakukan temannya dan dia meridhainya, berarti dia sama dalam dosa dengan temannya.

Kata Abu ‘Ali ad daqqaq: “Orang yang diam terhadap kebatilan berarti dia adalah syaitan bisu, dan jika dia menyuarakan kebatilan, dia adalah syaitan yang pandai bicara.

Sebab itu, jika ada seseorang senang kepada ahli maksiat, apalagi pelaku bid’ah, meskipun lahiriahnya taat, maka umumnya, jiwanya yang paling dalam akan menyeretnya kepada kemaksiatan meski dari arah yang sangat halus.

Siapa yang berteman dengan ahli ilmu, jiwanya akan mendorongnya kepada ahli ilmu, walaupun bukan termasuk thalabatul ilmi.

Kiaskanlah, tetapi mulailah dari diri sendiri.

Dengan siapa kita berteman?

Dengan orang yang selalu bikin onar?

Atau?

Wasiat ini buat kita semua dan semua menilai dirinya sendiri.

Wallahul Muwaffiq..

Sumber: http//forumsalafy.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s